Senin, 17 Maret 2014

Dasar-dasar etika & profesionalisme



Nama : Herry Aditama
Kelas : 4 KA 34
Npm  : 19110273
SEMESTER 8

tugas softskill :

dasar-dasar etika & profesionalisme

Etika
Etika merupakan salah satu cabang filsafat. Dalam pembagian klasiknya, filsafat terdiri dari filsafat teoritis dan filsafat praktis. Etika masuk ke dalam filsafat praktis.

1. Pengertian Etika
Apa itu etika? secara etimologis etika berasal dari kata Yunani ethikos. Secara terminologi etika diartikan sebagai,
“That study or discipline which concerns itself with judgements of approval dan disapproval, judgments as to the rightness or wrongness, goodness or badness, virtue or vice, desirability or wisdom of actions, dispositions, ends, objects, or states of affairs (Meta-Encyclopedia of Philosophy, 2007).”
Itu juga terkadang etika dipetukarkan dengan filsafat moral. Karena pada dasarnya etika merupakan sebuah disiplin untuk secara sistematis memahami hakikat moralitas, yakni bagaimana seharusnya manusia hidup dan mengapa harus begitu. Ia juga studi tentang serangkaian nilai dan pedoman hidup, serta justifikasi untuk masing-masingnya.
Dalam etika segala hal justifikasi dan pengetahuan atasnya dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan.

2. Ruang Lingkup Etika
Etika membicarakan segala perbuatan yang berkaitan dengan manusia dengan lingkup kehidupannya. Karenanya ruang lingkup etika banyak berkutat pada manusia. Dengan demikian, etika juga berurusan kepada persoalan manusia sebagai manusia. Bukan manusia sebagai dosen, mahasiswa, supir, rektor, pustakawan, tukang sapu, dll. Boleh jadi dosen bisa baik dalam mengajar (sebagai dosen), namun kebaikan dosennya tidak menjamin ia baik secara manusia.
Itu juga bisa dimengerti bahwa ada suatu perbuatan yang tidak mengandung nilai moralitas, yang disebut sebagai amoral.

3. Epistemologi Moral
Dalam kaitannya dengan permasalahan moral, pertanyaan tersulit adalah dari mana kita bisa memutuskan suatu itu baik atau buruk, benar atau salah? Bisakah kita mengetahui bahwa menyiksa anak tidak berdosa adalah perbuatan tidak bermoral? Lebih jauh, bisakah kita mengetahui baik atau buruk itu? Mengetahui salah dan benar? Apakah mungkin mengetahui hal tersebut? Sejatinya, epistemologi moral mendedahkan permasalahan tersebut, persoalan pengetahuan dan justifikasi tentang moral.

4. Tiga Pendekatan Etika
Setidaknya ada tiga pendekatan besar dalam etika:

à Etika Deskriptif
Pendekatan ini hendak menggambarkan perbuatan dari berbagai tradisi, kebiasaan dan kebudayaan. Bagaimana tradisi Muslim atau Kristian membicarakan hubungan seksual sebelum menikah, misalnya? Pendekatan atau etika deskriptif lebih mencari tahu bagaimana berbagai tradisi yang ada menyoal satu permasalahan sama. Karenanya, ia tidak pernah menjustifikasi suatu kebudayaan yang ada. Ia juga lebih bersifat mengkomparatifkan perbedaan cara masyarakat menjawab pertanyaan moral.
Etika deskriptif lebih populer dalam kajian sosiologi dan antropologi. Mengingat sifatnya yang tidak menjustifikasi sistem moral suatu kebudayaan.

à Etika Normatif
Berbeda dengan deskriptif, etika normatif dalam mengkaji moralitas yang ada, bersifat sekaligus menjustifikasi. Ia mencari tahu apa sih yang dimaksud dengan baik atau buruk, benar atau salah, dan bagaimana kita mengetahuinya. Apakah nilai baik atau buruk itu bersifat intrinsik atau nonintrinsik. Etika normatif bertanya “apakah melakukan hubungan seksual sebelum nikah benar?”

à Meta etika
Studi yang menekankan tentang bagaimana gagasan etika berasal dan apa maknanya. Ia lebih bersifat kebahasaan atau pemaknaan atas segala ucapan moral. Apa yang kita maksudkan dengan ucapan “baik”? Pernyataan pisau ini baik apakah ekuivalen dengan “Dian itu baik”? apakah “baik” itu identik dengan “kebaikan”?

5. Teori-teori Etika
Terdapat banyak teori-teori etika. Namun demikian, dalam tulisan ini, setelah dilakukan riset kepustakaan, hanya memfokuskan pada empat teori, dengan alasan bahwa 1) semua teori yang ada bersinggungan dengan keempat teori tersebut; dan 2) semua pemikiran etika sekurang-kurangnya memercayai salah satunya.

PROFESIONALISME
Profesionalisme adalah kemampuan dari seseorang dalam menjalankan tugasnya dan profesinya dengan baik dan menetapkan komitmen terhadap profesinya guna mengembangkan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya.
Seseorang yang professional akan berusaha yntuk melakukan yang terbaik guna memberikan kepuasan kepada diri sendri dan orang lain yang berhubungan dengan profesinya.



Kesimpulan
Betapa pun, moral pada dasarnya tidak bisa dijalani begitu saja. Ia perlu diperiksa atau dihayati. Setidaknya, seiring perkembangan waktu dan menyempitnya batas ruang maupun budaya, yang di mana pertemuan antarkultur sangat memungkinkan. Memeriksa atau menghayati moral merupakan keniscayaan.

Dengan bantuan filsafat, moral lebih mudah dipahami dan dipraktikkan serta dipertanggungjawabkan. Dan pada dasarnya, hampir bisa dipastikan dalam kesehariannya, setiap orang beretika. Sebagai misal, kita bisa menemukan pendapat banyak orang mengenai keangkuhan Bush. Mulai dari pangkalan ojek, warung kopi, rumah tanggga, arisan, kampus, hingga pesantren, semuanya membicarakan tindakan Bush. Dalam membicarakan hal tersebut, mereka tidak hanya sekadar berbicara, melainkan turut melakukan suatu penilaian.
Dengan etika atau filsafat moral, semua pernyataan atau penilaian kita tentang tindakan moral lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Saran

menurut kami  sebagai manusia seharusnya kita dapat menghargai karya orang lain dengan tidak membeli maupun memakai serta memanipulasi karya orang lain untuk kepentingan pribadi dengan alasan apapun, dan kita harus memulainya dengan menyadarkan diri sendiri maupun orang lain akan pentingnya kreatifitas yang telah mereka ciptakan, maka kita harus selalu menegur diri sendiri maupun orang lain untuk tidak melakukan kecurangan apapun dan harus bisa memanfaatkan teknologi komputer dengan sebaik-baiknya.

Analisis keuntungan dan kerugian dalam kerangka Etika bisnis:
• Pertama, keuntungan dan kerugian, cost and benefits, yg dianalisis tidak dipusatkan pd keuntungan dan kerugian perusahaan.
• Kedua, analisis keuntungan dan kerugian tidak ditempatkan dlm kerangka uang.
• Ketiga, analisis keuntungan dan kerugian untuk jangka panjang



Sumber: